Ilmu Budaya Dasar 2
Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara warna, dan sebagainya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian dari hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
Keindahan adalah identik dengan kebenaran, keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah yang tidak mengandung kebenaran tidak indah.
Ada dua nilai terpenting dalam keindahan
- Nilai ekstrinsik yakni nilai yang sifatnya sebagai alat atau membantu untuk sesuatu hal. Contohnya tarian yang disebut halus dan kasar.
-.Nilai intrinsik adalah sifat baik yang terkandung di dalam atau apa yang merupakan tujuan dari sifat baik tersebut, contohnya pesan yang akan disampaikan dalam suatu tarian.
Teori estetika keindahan adalah Jean M. Filo dalam bukunya “Current Concepts of Art” dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
- Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu subjektif adanya yakni karena manusianya menciptakan penilaian indah dan kurang indah dalam pikirannya sendiri. Barangkali pernah juga kita dengar pepatah “Des Gustibus Non Est Disputandum” selera keindahan tak bisa diperdebatkan.
- Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan objektif adanya, yakni karena keindahan itu merupakan nilai yang intrinsik ada pada suatu objek, artinya seekor kupu-kupu memang lebih indah dari pada seekor lalat hijau.
- Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu merupakan pertemuan antara yang subjektif dan yang objektif, artinya kualitas keindahan itu baru ada apabila terjadi pertemuan antara subjek manusia dan objek substansi. Ada tiga hal yang nyata ketika seseorang menyatakan bahwa sesuatu itu indah, apabila ada keutuhan (Integrity) ada keselarasan (Harmony) serta kejelasan (Clearity) pada objek tersebut. Ini biasanya disebut sebagai hukum keindahan.
H. C Wyatt meneliti alasan-alasan yang biasa diberikan orang apabila mereka mengatakan sesuatu itu indah, dan ia menemukan bahwa banyak sekali orang menganggap sesuatu itu indah karena menyebabkan ia bersosialisasi pada suatu yang pernah mengharukannya dahulu, harapan-harapannya dan seterusnya. Ia menganggap alasan-alasan ini sebagai alasan-alasan non estetik.
Hubungan Manusia dan Keindahan
Pada Hakikatnya Manusia adalah sebagai makhluk yang sempurna di ciptakan dengan akal fikiran, perasaan dan nafsu. Pada kehidupan sehari-hari manusia tak pernah lepas dari unsur keindahan, baik menciptakan keindahan maupun menikmati keindahan itu sendiri secara langsung maupun tidak langsung.
Ada beberapa alasan bagi manusia untuk menciptakan keindahan, ada yang menciptakan keindahan untuk banyak orang agar dapat di nikmati oleh orang-orang, ada yang menciptakan keindahan untuk suatu kepentingan, bahkan ada juga yang menciptakan keindahan untuk di nikmati oleh dirinya sendiri.
Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu kapan, di mana, dan siapa saja dapat menikmati keindahan. Selain itu manusia memang secara hakikat membutuhkan keindahan guna kesempurnaan pribadinya. Tanpa estetika manusia tidak akan sempurna, Karena salah satu unsur dari kehidupan adalah estetika. Sedang manusia adalah mahluk hidup, jadi dia sangat memerlukan estetika ini.
Pada dasarnya semua unsur yang ada di muka bumi ini memiliki keindahan, keindahan dapat berupa keindahan alam, keindahan karya seni, keindahan musik ataupun bisa juga keindahan pada manusia itu sendiri yang di ciptakan dengan kesempurnaan di bandingkan makhluk Tuhan yang lain. Semua unsur di muka bumi ini adalah ciptaan Tuhan maka pada dasarnya keindahan itu bersumber dari Tuhan dan di ciptakan oleh Tuhan untuk dapat di nikmati oleh manusia, sehingga perasaan kita akan merasa lebih baik karena adanya keindahan itu sendiri.
Oleh sebab itu kita harus bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan semu keindahan yang ada di alam semesta ini termasuk kita sebagai manusia yang memiliki segala bentuk keindahan yang sempurna di bandingkan makhluk yang lain dan dapat juga menciptakan suatu keindahan. Dan jangan pula kita merusak semua keindahan di dunia ini yang telah di ciptakan Tuhan, malah sepatutnya kita menjaga dan melestarikannya.
Menurut luasnya pengertian keindahan dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Keindahan dalam arti luas
Keindahan dalam arti luas menurut para ahli, yaitu :
a. Menurut The Liang Gie keindahan adalah ide kebaikan
b. Menurut Pluto watak yang indah dan hukum yang indah
c. Menurut Aristoteles keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
- Keindahan dalam arti estetik murni
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
- Keindahan dalam arti terbatas
Keindahan dalam arti yang terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda benda yang dapat -diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengarnat
2. Manusia dan Penderitaan
Penderitaan adalah merupakan bagian dari hidup, bahkan bagi para penganut buda menganggap bahwa pada dasarnya hidup ini adalah penderitaan atau dengan kata lain “samsara” yang artinya manusia tidak akan menemukan kebahagiaan sejati di dunia yang fana ini, kebahagiaan sejati hanya akan di dapat di Nirwana atau yang biasa kita sebut suga.
Memang pada saat tertentu, jika seseorang mandapat kesenangan, dia akan merasakan itu adalah kebahgiaan. Namun kebahagiaan yang dimaksud bukanlah kebahagiaan yang sejati, melainkan hanyalah kebahagiaan yang sesaat yang mana kebahagiaan itu akan hilang, kebahagiaan itu akan cepat pergi dan segera digantikan oleh hal-hal yang tidak menyenangkan bagi manusia yang bersangkutan.
Dari beberapa uraian di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sanya penderitaan itu adalah “suatu keadaan dimana manusia menanggung beban, atau merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.
Dalam pendapat lain yaitu pendapat Drs. Joko Tri Prasetya menyatakan bahwa Penderiataan berasal dari kata dasar derita, kata derita berasal dari bahasa sansakerta yaitu dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menahan atau menanggung suatu hal yang tidak menyenangkan atau tidak di inginkan. Penderitaan itu ada yang berbentuk penderitaan lahir atau pemderitaan batin atau penderitaan lahir batin. Ada beberapa yang termasuk penderitaan antara lain keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan kekenyangan, kepanasan dan lain-lain.
- Penyebab dari munculnya penderitaan
Pada dasarnya penderitaan itu muncul dapat disebabkan oleh bermacam-macam hal. Mungkin bisa karena menanggung rasa sakit, malu, lapar, kecewa, takut, gagal, terikat, rasa tertekan dan segainya. Menurut Dr. Orison Swett Marden, diantara perasaan yang tidak menyangkan itu, sumber utama yang menimbulkan penderitaan yang muncul dalam kehidupan manusia adalah rasa takut. Bisa kita lihat misalnya apabila ada seseorang yang sakit maka penderitaan yang dialami orang tersebut adalah pada dasarnya disebabkan oleh rasa takut, bisa takut akan kematian, takut akan bahaya penyakit yang di derita ataupun takut kalau-kalau dia tidak bisa sembuh. Dan bukan hanya rasa sakit, tapi rasa malu pun sesungguhnya mengandung rasa takut, misalnya takut kalau dia salah, atau ucapanya kurang tepat.
Padahal rasa takut itu sering kali muncul atau timbul dari sebuah khayalan yang mana kadang-kadang khayalan itu tidak rasional. Misalnya, rasa takut melewati sebuah jambatan, karena beberapa hari sebelumnya ada orang yang meninggal karena kecelakaan di jebatan itu. Dan itu adalah suatu khayalan tidak rasional yang muncul dari pemikiran seseorang yang kemudian timbul rasa takut untuk melewati jembatan tersebut.
Rasa takut yang muncul pada diri manusia yang mana disebabkan oleh khayalan yang di besar-besarkan itu dinamakan “phobia”. Adapun macam-macam phobia itu adalah claustro phobia atau rasa takut berada di ruang tertutup, agora phobia atau rasa takut berada di ruang terbuka, dan klepto phobia atau rasa takut akan kecurian. Kecuali ada juga orang yang menderita phobia berada di tempat yang tinggi, dan lain sebagainya.
Efek dari phobia yang berlebihan atau keterlaluan itu akan mengakibatkan depresi pada seseorang. Depresi adalah tekanan mental yang di sebabkan karena kekecewaan, kekesalan atau kegagalan.
Jadi pada umumny meunculnya penderitaan yang di alami oleh manusia dalam kehidupanya itu pada dasarnya di dasari oleh rasa takut dalam dirinya atau pemikiran mengenai hal-hal yang negative dalam dirinya.
Dalam Al-Quran maupun kitab-kitab suci lainnya banyak yang menerangkan tentang penderitaan yang dialami manusia, di situ di jelaskan bahwa penderitaan yang di alami manusia itu bisa juga di anggap sebagai ujian atau cobaan, peringatan atau balasan. Namun manusia pada umumnya tidak mengetahui makna penderitaan yang di alaminya.
Ada berbagai kasus penderitaan ysng terdapat dalam kehidupan manusia. Banyaknya macam kasus penderitaan yang di alami manusia itu sesuai dengan lika-liku hidupnya masing-masing individu manusia itu sendiri. Dalam kehidupan, penderitaan manusia itu telah menjadi salah satu gagasan atau tema karya filsafat atau karya seni sepanjang zaman. Kita tahu bahwa banyak karya seni dan filsafat yang lahir dari sebuah imajinasi penderitaan seperti epos Ramayana dan Mahabarata itu merupakan salah satu karya seni yang lahir dari imajinasi penderitaan, karena sudah jelas dalam kisah terrsebut penuh dengan kisah penderitaan
- Sumber penderitaan
Dalam bukunya yang berjudul ilmu budaya dasar, Drs. Joko Tri Prasetya menerangkan bahwa sanya sumber dari penderitaan itu ada dua yaitu hakikat manusia dan dorongan memenuhi kebutuhan.
- Hakekat menusia.
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk hidup yang memiliki kepribedian yang tersusun dari perpaduan dan saling berhubungan dan saling mempengaruhi antara unsure-unsur jasmani dan rohani, oleh karena itu penderitaan itu terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.
Jasmani di sebut juga sabagi tubuh, badan, jasad, materi, wadah, atau unsure kongkrit dari pada pribadi. Jasmani merupakan unsure yang hidup pada diri manusia. Di dalam jasmani manusia ada dua unsure yang selalu berhubungan yaitu otak dan panca indra. Di dalam otak ada berbagai pusat kemampuan manusia. Panca indra merupakan alat atau jendela atau pintu dalam tubuh manusia sehingga manusia mampu menangkap atau menerima segala hal sesuatu yang berbeda di lingkungannya.
Rohani sering disebut juga dengan istilah lain seperti jiwa, badan halus. Rohani ini adalah unsure yang terdapat pada manusia yang tidak dapat ditangkapa oleh panca indra manusia. Dalam kehidupan sehari-hari rohani ini berperan menjiwai atau memimpin kepribadian manusia. Raohani memiliki alat dan kemampuan yaitu seperti akal, perasaan, pikiran, kemauan. Dalam rangka pembahasan mengenai pederitaan ini akan di bahas mengenai nafsu.
Nafsu adalah semua dorongan yang timbul oleh segala macam kebutuhan, termasuk pula instink, sehingga menimbulkan keinginan. Batasan antara nafsu dan keinginan itu tidak terlalu jelas. Poedjawijatna (1984) menyamakan antara keinginan dan nafsu. Nafsu akan menimbulkan gairah kehidupan pada manusia, jika nafsu di penuhi akan menimbulkan kepuasan dan rasa enak dan senang. Namun sebiknya apabila nafsu itu tidak di penuhi maka akan menimbulkan rasa ketidak puasan dan aka kurangnya rasa senang yang mana akan menimbulkan rasa derita yang mana tergolong derita rohani yang di rasakan oleh manusia.
Kasmiran (1985) menjelaskan bahwa nafsu menurut kerohanian Indonesia mencakup lima macam yaitu empat macam seperti yang ada di dalam ilmu tasawuf islam dan satu macam lagi itu merupakan perpaduan antara empat macam tersebut. Lima macam nafsu tersebut ialah : mutma’inah, ammarah, supiah, lawamah dan kombinasi dari empat nafsu.
Keempat nafsu tersebut dimiliki atau berada dalam pribadi manusia, tetapi tidak memiliki kekuatan atau pengaruh yang sama. Intensitas pengaruh masing-masing nafsu itu pada diri manusia di pengaruhi oleh peruses sosialisasinya, khususnya sosialisasi pada masa kanak-kanaknya.
Perasaan merupakan gejala psikis. Perasaan menyangkut suasana batiniah manusia. Kalau seorang merasa cinta, benci dan sebagainya perasaan cinta atau benci ini tinggal didalam batin manusia. Perasaan itu timbul akibat dari kontak antara manusia dengan lingkungannya. Adanya rangsangan dari lingkungan yang menibulkan reaksi dalam kaitanya reaksi ini adalah emosional. Reaksi emosional ini dapat sesuai dengann kehendak pribadi atau akan melahirkan rasa puas, senang, dan sikap positif, tetapi dapat pula terjadi pula reaksi emosional ini tidak sesuai dengan kehendak pribadi sehingga akibat yang ditimbulkannya yaitu rasa tidak senang, marah, sikap negative. Rasa seperti marah, tidak senang dan sikap negative inilah salah satu penderitaan batiniah manusia.
- Dorongan memenuhi kebutuhan
Untuk mempertahankan keberadaan dan kehidupanya, manusia di tuntut untuk memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan fisik, maupun kebutuhan psikis, dan social. Dorongan memenuhi kebutuhan ini juga sebagai sumber penderitaan. Di dalam usaha memenuhi kebutuhan ini nafsu memegang peran penting. Nafsu atau dorongan ini cenderung menuntut untuk dipenuhinya kepuasan dan keinginan. Dalam usaha memenuhi dorongan atau nafsu ini menusia menggunakan daya kehendak dan akal budi serta perasaan yang di milikinya untuk memilih dan mempertimbangkan jalan untuk objek yang di tuju. Kehendak akal dan budi mempertimbangkan jalam dan meteri yang merangsang manusia untuk di realisasikan dalam bentuk perbuatan.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan ini mungkin saja terjadi bahwa tujuan ialah sesuatu yang dibutuhkan dan yang di inginkan dapat tercapai sesuatu yang di kehendaki. Tapi mungkin pula sesuatu yang di inginkan atau di kehendaki tidak tercapai. Jika yang di inginkan atau yang di kehendaki dapat tercapai maka yang akan di dapatkan atau yang akan di rasakan adalah kepuasan, kegembiraan atau kesenangan. Namun jika apa yang di inginkan atau yang di kehendaki tidak tercapai maka yang akan di dapatkan atau yang akan di rasakan adalah hanya perasaan kecewa, marah, sedih atau yang di sebut dengan penderitaan
- Upaya menghindarkan diri dari penderitaan
Menurut Huijbers (1986) hidup objetif mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan hidup, dalam mengejarnya dan dalam menghayatinya. Hidup efektif atau ersaan justru menjadi motor yang kuat untuk mengembangkan suatu hidup menjadi bagian suatu situasi hidup yang telah dicapai. Perkembangan hidup menusia terjalin dengan eratnya dengan hidup emosionalnya. Bila hidup emosionalnya baik maka kemungkinan sebagian besar hidupnya akan baik pula. semua apa yang ada pada diri manusia sesungguhnya bisa dirubah, begitu pula dengan penderita. Meskipun banyak yang berpendapat bahwa penderitaan adalah suatu takdir yang telah di tentukan dari yang maha kuasa, namun penderitaan ini bisa kita hindari, tentunya ada upaya atau usaha yang orang lakukan untuk menghindari suatu penderitaan, meskipun manusia hidup tidak akan pernah terlepas dari penderitaan. pada dasarny banyak upaya yang orang bisa lakukan untuk menghidari penderitaan, antara lain upaya yang bisa orang lakukan optimis, yaitu seseorang dalam melangkah atau melakukan sesuatu harus mampu bersifat optimmis, dari bersifat optimis inilah seseorang akan mampu menepis rasa takut yang bisa menyebabkan penderitaan. Seseorang yang mampu menahan diri untuk menjaga nafsu terutama nafsu kejelekan itu akan menghindarkan diri seseorang dari penderitaan. Kita tahu bahwasanya manusia hidup tidak akan pernah terlepas dari penderitaan, namun setidaknya kita bisa meminimalisir penderitaan tersebut.
3. Manusia dan keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.
Keaadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa “Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran”. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: “Kita tidak hidup di dunia yang adil”. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya
4 . Manusia dan pandangan hidup
Pandangan hidup
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati karena ia menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar itu manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup. Pandangan hidup berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
- Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
- Pandangan hidup yang berupa ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada suatu Negara
- Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Apabila pandangan hidup itu diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi, maka panandangan hidup itu disebut ideology. Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsure-unsur yaitu : cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan. CIta-cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmana, dan kepercayaan kepada Tuhan.
5. Manusia dan tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan sebuah konsekuensi dari hasil perbuatan yang kita lakukan dan tanggung jawab itu bersifat wajib pada apa yang telah kita lakukan secara sadar dengan sengaja atau pun tidak di sengaja secara lisan maupun tulisan. Jika kita tidak mempunyai tanggung jawab akan semua perbuatan kita, maka kita akan dinilai sebagai orang yang tidak bertanggung jawab, karena tanggung jawab akan sebuah perbuatan itu tidak hanya tanggung jawab untuk diri sendiri.
Ada beberapa tingkatan dalam tanggung jawab :
- Tanggung jawab kepada TUHAN
- Tanggung jawab kepada BANGSA / NEGARA
- Tanggung jawab kepada KELUARGA
- Tanggung jawab kepada MASYARAKAT/ORANG LAIN
- dan Tanggung jawab kepada DIRI SENDIRI
6 . Manusia dan kegelisahan
Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan. Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehari-hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekwatiran ataupun ketakutan. Masalh kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena pa yang diinginkan tidak tercapai. Sigmund Freud ahli psikoanalisa berpendapat, bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia yaitu kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neorotik dan kecemasan moril.
Kecemasan obyektif adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam utnuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadia takut kalau ia berada dekat dengan benda-benda tertentu dalam keadaan tertentu dari lingkungan..
Kecemasan neorotis timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah Menurut Sigmund Freud kecemasan ini dibagi tiga macam yakni; kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan, bentuk ketakutan yang irasional (phobia) dan rasa takut lain karena gugup, gagap dan sebaganya.
Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam=macam emosi atnra lain: isri, dengki, marah, gelisah, cinta, rasa kurang. Semua itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat. Sikap seperti itu sering membuat orang merasa kwatir, cemas, takut gelisah dan putus asa.
Bila dikaji sebab-sebab orang gelisah adalah karena hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari dalam maupun dari luar. Mengatasi kegelisahan ini pertama-tama dimulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga segala kesulitan dapat kita atasi.
7 . Manusia dan harapan
Manusia mempunyai sifat tak pernah puas dari apa yang dia punya. Oleh karena itu semua manusia pasti mempunyai harapan sendiri-sendiri. Manusia hanya bisa membuat harapan-harapan, tetapi yang menentukan harapan-harapan manusia dikabulkan atau tidak dikabulkan ialah Tuhan Yang Maha Esa yaitu Alloh SWT. Jadi manusia hanya bisa berharap (do’a) dan berusaha untuk mendapatkannya. Jadi kesimpulan dari apa yang saya jelaskan di atas adalah manusia tidak pernah lepas dari harapan-harapannya.
Pengertian harapan.
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya suatu terjadi; sehingga harapan berarti suatu yang di inginkan dapat terjadi. dengan demikian harapan menyangkut masa depan. Adapun menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manusia itu ialah:
1. Kelangsungan hidup ( Survival ),
2. Keamanan ( Safety ),
3. hak dan kewajiban dicintai dan mencintai ( Be loving and love ),
4. Diakui lingkungan ( Status ), dan
5. Perwujudan cita-cita ( Self actualization ).
- Berbagai kepercayaan dan usaha untuk meningkatkannya.
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Kepercayaan itu dapat di bedakan atas:
1. Kepercayaan pada diri sendiri,
2. Kepercayaan pada orang lain,
3. Kepercayaan pada pemerintah, dan
4. Kepercayaan pada Tuhan.
Sumber : http://chaidarammar.blogspot.com/2012/04/manusia-dan-keindahan-nama-chaedar.html
http://whaysworld.wordpress.com/2011/06/10/manusia-dan-keadilan/
http://whaysworld.wordpress.com/2011/06/10/manusia-dan-pandangan-hidup/
http://irfanarifprasetyo.blogspot.com/2011/04/manusia-dan-tanggung-jawab.html
http://kurniaijma.blogspot.com/2012/06/ilmu-budaya-dasar-1.html
http://laelatulafifah.blogspot.com/2012/01/manusia-dan-kegelisahan.html